Sponsors Link

Batuk Sampai Mata Merah – Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Sponsors Link

Batuk adalah penyakit yang umum terjadi pada semua orang dari masa kecil hingga dewasa, tetapi tidak begitu halnya dengan kondisi batuk sampai mata merah atau batuk pilek disertai mimisan maupun batuk berdahak disertai mimisan. Batuk hingga menyebabkan mata menjadi merah mungkin hanya kasus tertentu di beberapa orang saja. Kondisi ini kerap kali dikenal oleh masyarakat awam dengan istilah ‘Batuk Rejan’. Penjelasan selanjutnya mengenai Batuk Rejan yang mampu menyebabkan kondisi mata merah ini akan dibahas sebagai berikut.

ads

Batuk sampai mata merah dikenal dengan istilah Batuk Rejan, atau yang dalam istilah medis disebut dengan Pertusis merupakan infeksi pada paru-paru dan saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri, baik oleh bakteri Bordetella pertussis, Bordetella parapertussis, maupun Bordetella bronchiseptica. Penyakit ini tergolong mudah sekali menular dan bisa menjadi penyakit yang mengancam nyawa penderitanya, terutama bila penderita termasuk dalam golongan anak-anak dan lansia. Selain itu, bayi maupun dewasa yang belum mendapatkan vaksin pertusis juga beresiko tertular lebih tinggi ketika terpapar bakteri ini karena berdekatan dengan orang yang mengalami Batuk Rejan.

Batuk Rejan – Gejala dan Penyebabnya

Penyakit ini cukup mengganggu dan biasanya akan berlangsung cukup lama, yaitu sekitar 100 hari. Selain menyiksa karena waktunya yang bisa mencapai sekitar 3 bulan, penderita Batuk Rejan biasanya juga akan mengalami batuk keras yang begitu mengganggu dan menyakitkan. Pada beberapa kasus, batuk ini mampu menjalarkan symtomps lain seperti demam, keluar ingus dari hidung, bahkan muntah ketika batuk. Banyak penyebab terjadinya batuk rejan yang nanti akan dibahas dan sedikit berbeda dengan penyebab dahak berdarah tanpa batuk.

Gejala yang membedakan batuk rejan dengan tipe batuk lainnya adalah disertai dengan pilek, bersin, mata memerah, demam ringan, serta batuk kering. Dalam perkembangannya, gejala batuk rejan bisa berbeda-beda sesuai dengan tahapan batuk yang diderita seseorang, yaitu:

1. Masa Gejala Awal

Pada tahapan ini, penderita akan mengalami gejala ringan seperti hidung tersumbat  dan berair, bersin, mata berair, batuk ringan, radang tenggorokan, sampai demam. Tahapan ini biasanya akan berlangsung selama dua minggu untuk masuk tahap selanjutnya bila tidak segera ditangani.

2. Masa Paroksismal

Ini adalah tahap lanjutan dari gejala awal dengan symtomps gejala awal bertambah parah bahakan tidak terkontrol. Batuk terus-menerus secara keras dengan tarikan nafas yang panjang melalui mulut hingga penderitanya mengalami muntah-muntah dan kelelahan. Tahapan ini akan terus berkembang sampai tahap selanjutnya dalam waktu sekitar dua sampai empat minggu.

3. Masa Penyembuhan

Meski disebut penyembuhan, tak lantas penderita benar-benar sembuh. Dalam masa ini, kondisi tubuh penderita memang lebih baik, namun Batuk Rejan tersebut akan terus ada dalam diri penderita bahkan bisa kambuh secara lebih parah. Biasanya orang akan masuk dalam tahap ini ketika baru mulai mengobati diri ketika sudah sampai di Masa Paroksismal dan pengobatannya sendiri memakan waktu sekitar 2 bulan – atau bisa lebih.

Bagaimana Mengatasi Batuk Rejan?

Penting bagi kita untuk berusaha menghindari Batuk Rejan atau batuk sampai mata merah. Cara mengatasi batuk ini bisa dengan dua alternatif, pencegahan maupun pengobatan. Alternatif ini tentunya berbeda dengan cara mengatasi batuk disertai sakit perut. Pencegahan batuk rejan bisa dilakukan dengan mendapatkan vaksin pertusis, dengan ketentuannya sebagai berikut:

Sponsors Link

  • Vaksin ini biasanya sudah diberikan bersamaan dengan vaksin DPT dan Hib.
  • Pada bayi, jadwal vaksinasi untuk pertusis itu sendiri bisa dilakukan pada usia 2, 4, dan 6 bulan serta 1,5 hingga 2 tahun dan 5 tahun. Selain bayi dan anak-anak, ibu hamil juga sebaiknya mendapatkan vaksin serupa guna melindungi sang bayi dari Batuk Rejan yang mungkin terjadi di minggu-minggu awal setelah lahir.
  • Ibu hamil biasanya akan mendapatkan tawaran vaksin pertusis ketika kehamilan mencapai usia 28 hingga 38 minggu.

Selain dua prioritas di atas, remaja dan dewasa juga bisa mendapatkan vaksin pertusis (baik awal maupun tambahan) dengan waktu yang sudah ditentukan. Pada remaja, sistem kekebalan tubuhnya mulai berkurang ketika berusia 11 tahun dan ini adalah saat tepat untuk memberikan vaksin pertusis. Sedangkan pada dewasa, vaksin ini adalah vaksin yang bisa didapatkan berulang setiap 10 tahun sekali untuk melindungi diri Anda dari serangan Batuk Rejan sekaligus mengurangi penularan dari penderita dewasa kepada bayi, dengan beberapa prosedur dokter sebagai berikut:

  • Pada alternatif pengobatan, Anda tentunya membutuhkan penanganan dokter untuk mendapatkan obat pereda Batuk Rejan. 
    Sponsors Link

  • Namun, ada beberapa penanganan pribadi yang bisa Anda lakukan bila belum mendapatkan tindakan dari dokter.
  • Beberapa hal tersebut seperti mengonsumsi ibuprofen atau paracetamol yang akan berfungsi mengurangi demam dan radang tenggorokan.
  • Selain itu, penderita juga harus telaten mengeluarkan semua lendir yang mungkin ada ketika batuk, jangan sampai tertelan kembali karena lendir tersebut juga mengandung bakteri yang harus segera dibersihkan dari dalam tubuh.
  • Ini tentunya menjadi beban tersendiri bila yang mengalami adalah anak-anak sehingga membutuhkan alternatif cara meredakan pilek pada bayi dan anak-anak.

Selain mengonsumsi obat tersebut, penting bagi Anda men-support diri dengan konsumsi makan-makanan sehat. Memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan harian akan membantu tubuh Anda melawan virus tersebut dari dalam diri sendiri sehingga menghindari kemungkinan batuk alergi yang harus ditangani dengan cara mengatasi batuk alergi. Untuk menghindarkan orang-orang sekitar tertular, Anda perlu memberikan proteksi diri dengan menggunakan masker dan selalu menutup mulut dan hidung dengan tisu ketika batuk atau bersin.

Demikianlah informasi yang bisa kami berikan terkait batuk yang menyebabkan mata merah atau Batuk Rejan. Semoga informasi ini bisa memberikan pengetahuan baru terkait gejala, penyebab, dan bagaimana pengobatan yang bisa dilakukan sendiri sebelum mendapat tindakan dokter. Untuk ke depannya, biasakan selalu menggunakan masker dan tisu ketika tertular penyakit seperti batuk, pilek, dan flu (apapun penyebabnya) untuk mengurangi potensi penyebaran kepada orang lain terutama kepada bayi dan anak-anak.

, ,