Sponsors Link

 Penyebab Ingus Berdarah Saat Flu

Sponsors Link

Flu seringkali memang menyerang manusia, terutama pada musim-musim tertentu ketika virus penyebab flu berkembangbiak dengan baik. Gejala flu yang paling umum ditemui adalah batuk dan pilek. Pilek ini seringkali menyebabkan adanya lendir atau ingus yang keluar dari hidung. Ingus yang berada di dalam hidung memang tidak membuat nyaman, sehingga harus dikeuarkan.

ads

Kondisi tubuh ternyata bisa diketahui dari jenis ingus yang dikeluarkan dari dalam tubuh. Untuk lebih jelasnya simak penjelasan di bawah ini.

  • Ingus Putih/Bening – Ingus jenis ini tergolong normal dan tidak begitu berbahaya karena igus bening hanya merupakan peningkatan produksi lendir dalam hidung. Biasanya reaksi alergi yang bisa menyebabkan ingus bening ini.
  • Ingus Kuning/Kuning Kehijauan – Ingus jenis ini dapat menjadi petunjuk adanya infeksi pada tubuh. Namun hal ini hanya disebabkan oleh sel darah putih yang menyebabkan warna ingus menjadi lebih kuning atau hijau. Penyebab lain yang bisa terjadi adalah adanya penyakit sinusitis.
  • Ingus Biru – Ingus biru disebabkan oleh bakteri Pseudomonas pyocyanea. Namun hal ini sangat jarang terjadi. Jika terjadi, penderita harus segera diperiksa dokter.
  • Ingus Hitam – Ingus jenis ini adalah tanda bahwa udara yang dihirup sangat kotor atau berpolusi.
  • Ingus Merah/Merah Kecoklatan/Oranye – Ingus warna ini bercampur dengan darah. (baca juga: Cara Menghilangkan Dahak)

Dari penjelasan di atas, ada salah satu jenis ingus yang disertai dengan darah. Mungkin hal ini jarang terjadi, namun tidak sedikit juga orang yang mengalaminya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Berikut beberapa penyebab ingus berdarah saat flu yang perlu diketahui:

  • Terlalu kuat mengeluarkan ingus hingga bagian dalam hidung mengalami luka.
  • Rinitis alergi.
  • Pilek atau flu biasa pada rongga hidung yang terluka.
  • Terlalu sering menekan atau menggosok bagian dalam hidung secara berlebihan dan kasar.
  • Difteri yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.

Dari beberapa penyebab di atas, ingus berdarah seringkali terjadi karena difteri yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium. Bakteri ini memang menyerang saluran pernafasan sehingga saat mengeluarkan ingus, ada darah yang keluar. Untuk lebih jelasnya mengenai difteri, berikut ini ada beberapa hal yang bisa diketahui.

Penyakit difteri ini bisa menular seperti penyakit flu dan batuk secara umum. Cara penularan difteri dan penyebarannya harus diperhatikan dan waspadai. Berikut beberapa cara penyebaran bakteri penyebab difteri yang bisa saja terjadi.

  • Penggunaan bersama peralatan rumah tangga – Peralatan rumah tangga seperti alat makan atau mandi bisa menjadi cara yang paling mungkin untuk menyebarkan bakteri difteri. Apabila di dalam rumah terdapat penderita difteri, usahakan peralatan rumah tangga selalu steril. Walau cara penularan melalui peralatan rumah tangga ini jarang ternjadi, seseorang harus tetap waspada untuk mencegah penularan difteri lebih luas di rumah. (baca juga: Cara Mengobati Pilek Pada Bayi)
  • Menyentuh luka penderita difteri – Penularan bakteri difteri juga bisa terjadi saat seseorang menyentuh luka orang yang terkena infeksi bakteri tersebut, baik disengaja atau tidak. Maka dari itu jika ada teman atau keluarga telah terinfeksi bakteri, sebaiknya jangan mendekat atau menyentuhnya jika ada luka. Karena hal ini bisa menjadi jalan masuk yang lebih leluasa bagi bakteri penyebab difteri untuk berpindah ke tubuh orang lain.
  • Bersin – Seperti kebanyakan kasus flu, bakteri difteri yang menyerang sistem pernafasan pun akan bisa menular saat penderitanya bersin. Hal ini terjadi karena saat penderita bersin, maka uap air akan dilepaskan ke udara dan udara dihirup oleh orang lain. Maka dari itu, jika terinfeksi bakteri difteri, segera gunakan masker, terutama jika berada di tempat umum.
Sponsors Link

Artikel lainnya:

Selain itu, ada beberapa faktor risiko dari tertularnya bakteri difteri, yaitu kepada orang-orang di bawah ini:

  • Orang yang berada di daerah yang mana bakteri difteri sedang mewabah. 
  • Orang yang memiliki sistem imunitas tubuh yang rendah atau mengalami gangguan (penderita kanker, penyakit berat, atau HIV/AIDS).
  • Orang yang pola hidup dan lingkungannya tidak sehat.
  • Orang yang tempat tinggalnya penuh sesak dan kotor.
  • Orang dewasa dan anak-anak yang tidak memperoleh imunisasi atau vaksinasi yang sesuai. (baca juga: Penyebab Penyakit Pneumonia)

Oleh karena itu, difteri sering dijumpai di negara-negara berkembang, karena sistem imunitas di negara berkembang biasanya rendah. Jika bakteri difteri sudah menjangkit, maka akan mudah bakteri tersebut menyebar di sana.

Gejala Awal Difteri atau Ingus Berdarah

ads

Bakteri difteri menyerang manusia pada awalnya adalah selama 2 sampai 7 hari. Setelah itu, bakteri akan mulai menginfeksi secara lebih parah pada saluran pernafasan. Beberapa gejala atau ciri-ciri yang perlu diketahui dan diwaspadai, dan menjadi pertanda bahwa ada bakteri difteri di dalam tubuh seseorang antara lain:

  • Penderiya akan merasakan rasa sakit di tenggorokan, yaitu saat menelan makanan atau minuman.
  • Suara nafas yang keluar dari penderita terdengar seperti nafas berat atau mendengkur.
  • Penderita akan mengalami sesak nafas.
  • Jika difteri terjadi pada anak-anak, gejala yang mungkin dialami antara lain mual, sakit kepala, menggigil, bahkan muntah.
  • Penderita akan mengalami demam yang tidak terlalu tinggi.
  • Penderita akan mengeluarkan nafas yang berbau.
  • Ketika diperiksa oleh dokter, akan ada selaput putih agak keabuan di tenggorokan. Jika selaput tersebut disentuh, maka akan sangat mudah berdarah. Hal inilah yang menyebabkan ingus berdarah.
  • Penderita akan mengeluarkan ingus yang disertai dengan darah.
  • Kadang penderita juga akan mengalami perdarahan yang mengalir dari hidung (mimisan). (baca juga: Penyebab Pilek Berkepanjangan Pada Anak)

Pengobatan Difteri atau Ingus Berdarah

Jika seseorang terserang difteri, dokter akan menganjurkannya untuk menjalani perawatan dalam ruang isolasi. Tujuannya agar bakteri tidak menyebar semakin luas. Langkah pengobatan yang akan dilakukan adalah dengan memberikan dua jenis obat, yaitu antibiotik dan antitoksin sebagai berikut:

  • Antibiotik diberikan pada penderiya agar dapat membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi pada daerah yang terserang bakteri. Dosis antibiotik ini tergantung pada tingkat keparahan difteri yang terjadi.
  • Sebagian besar penderita difteri yang melakukan perawatan di ruang isolasi baru dapat keluar dari ruang isolasi setelah dua hari mengonsumsi antibiotik.
  • Namun konsumsi antibiotik tetap harus dilakukan selama kurang lebih dua minggu ke depan. Penderita difteri kemudian akan menjalani pemeriksaan laboratorium di rumah sakit untuk mengetahui apakah masih ada bakteri difteri dalam aliran darah yanh hidup.
  • Jika masih ada bakteri difteri di dalam tubuh penderita, maka dokter akan melanjutkan pengobatan dengan antibiotik selama 10 hari lagi.

Sementara itu, antitoksin berfungsi sebagai penetralisir racun atau toksin yang disebabkan oleh difteri yang menyebar di dalam tubuh. Biasanya, sebelum antitoksin diberikan kepada penderita, dokter akan mengecek apakah penderita tersebut memiliki alergi atau risiko alergi terhadap jenis obat antitoksin atau tidak. Jika terjadi reaksi alergi di tubuh penderita, maka dokter akan memberikan antitoksin dalam dosis yang lebih rendah. Lalu, perlahan-lahan dosis akan ditingkatkan sedikit demi sedikit sambil memantau perkembangan kondisi si penderita.

Selain penderita, orang-orang yang berada di dekatnya (keluarga atau orang-orang yang sering berinteraksi dengan penderita secara langsung) juga disarankan untuk diperiksa kondisi kesehatannya untuk deteksi dini penyebaran difteri itu sendiri. Dokter biasanya akan menyarankan mereka untuk menjalani tes dan juga memberikan antibiotik pada dosis tertentu untuk pencehagan tertularnya difteri. Kadang, vaksin difteri juga bisa kembali diberikan pada orang-orang tersebut jika dibutuhkan dengan tujuan untuk meningkatkan perlindungan terhadap tertularnya difteri ini. 

Sponsors Link

Artikel lainnya:

Cara Mencegah Difteri atau Ingus Berdarah

Seperti yang diketahui bersama, pencegahan akan selalu lebih baik daripada pengobatan. Pencegahan yang bisa dilakukan agar manusia bisa bebas dari difteri dengan memperoleh vaksinasi. Vaksinasi yang dimaksud adalah vaksin DPT, berikut langkah awal pencengahannya:

  • Vaksin ini merupakan vaksin pencegahan bakteri difteri, yang mana wajib diimunisasikan pada anak-anak. Vaksin DPT ini merupakan salah satu vaksin yang diberikan selama 5 kali.
  • Waktu yang ditentukan untuk vaksin ini adalah saat anak berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, antara 1,5 hingga 2 tahun, dan 5 tahun.
  • Setelah 5 kali vaksinasi, anak-anak akan bisa terlindung dari bakteri difteri seumur hidupnua. Dan saat dewasa, anak-anak tidak perlu mendapat vaksinasi lagi.
  • Namun, antara usia 11-18 tahun, anak bisa diberi vaksin lagi agar efektivitas dari vaksin dapat berjalan semakin maksimal.
  • Bahkan untuk penderita difteri dan telah sembuh pun, biasanya dokter masih menyarankan agar penderita melakukan vaksinasi lagi agar risiko penyakit difteri kembali lagi bisa berkurang dan tidak terjadi difteri di masa yang akan datang.

Demikianlah beberapa penyebab ingus berdarah saat flu yang mungkin terjadi. Semoga informasi pada artikel ini bermanfaat. Ingat selalu untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh agar tidak ada keluhan penyakit yang menyerang. Jika ada gangguan, segera periksakan diri ke dokter untuk diagnosis lebih lanjut.

, , , , , ,
Oleh :
Kategori : Penyebab